Home Poems
Poem
Cancel

Bagaimana Cara Membuatmu Bahagia?

Pagi di hari Senin. Baju seragam putih-merah itu masih merebakkan wangi hangat setrikaan beberapa jam sebelumnya. Kamu yang mengantarkanku berlomba beberapa hari sebelumnya, aku kira akan bahagia mengetahui anakmu pulang ke sekolahnya membawa piala. Aku kira engkau pun akan bahagia melihat angka yang hampir sempurna di kala buku merah itu diserahkan meski engkau jarang sekali hadir tepat waktu untuk menerimanya.

Bagaimana cara membuatmu bahagia?

Aku mulai berhipotesa tentang tempat belajar terbaik. Engkau hanya menyarankan pilihan yang saat itu terdengar tidak sama menarik. Aku turuti, sadar diri, bahwa aku masih mudah terombang-ambing dan lemah dalam menempuh jalan yang panjang dan bertahan di bawah sinar yang terik. Hanya saja, maafkan aku tidak pernah bercerita tentang bagaimana aku lebih babak belur mendapatkan hasil yang aku kira akan engkau minta. Dan lagi, engkau tidak pernah hadir mendengar langsung kritikan dan pujian atas pencapaian dan kegagalan pelajar yang baru mulai belajar menjaga dirinya ini.

Bagaimana cara membuatmu bahagia?

Jajanan langganan kita tidak pernah lagi datang ke depan pagar rumah yang menanti di setiap Rabu sore. Mungkin saatnya aku harus mengganti kesibukan, mencari cara lain untuk membuktikan potensi. Tapi apa daya, aku malah tersungkur sendiri dengan pola pilihan ini. Aku tak mampu menghidupi label yang pernah kumiliki. Dengan bayang-bayang dari yang lebih dewasa, bagaimana caraku bisa membuatmu bahagia?

Aku tak ingin lagi menerka-nerka. Padamu aku mulai bertanya, meski masih tanpa bercerita.

Inginmu sederhana. Aku tidak perlu “menggapai”, tidak harus “memiliki”, tapi cukuplah “menjadi.”

Namun ternyata, harapan itu lebih sulit daripada alternatif lainnya. Aku terus berusaha “menjadi” pilihanmu, tapi abai dari “menjadi” pilihanku sendiri.

Aku pun kian tersungkur dan tersungkur, di belakangmu. Namun aku pun selalu dobrak diri untuk bangkit dan naik lagi, di depanmu. Walau tak nampak di mata, aku tahu bahwa engkau tahu di dalam hati ini ada suatu wadah kecil yang surut airnya. Ia surut karena hanya mengandalkan diri yang berinterpretasi dan keras kepala.

Bagaimana caranya agar kita bahagia?

Lamat-lamat aku alami ulang cuplikan-cuplikan kehidupan kita. Kuhirup udara yang kau hirup ketika kau rapikan seragam yang tiap hari kukenakan dengan bangga. Kulihat pemandangan yang kau lihat di kala dulu aku pegang bajumu dari belakang. Kakiku menjinjit sebagaimana kaupun berjinjit ketika menaiki sepeda motor setiap paginya. Kupandangi dompetku seperti dulu kau memandang punyamu di saat aku meminta mainan sepulang dari hajatan. Kudengar suara gesekan antara dedaunan kering dan ikatan lidi dari tanganku yang persis dulu kudengar dari jauh kamar belaka.

Ah, mengapa engkau tidak pernah berucap sesuatupun tentang dirimu?

Lalu terang sudah, bahwa air untuk wadah yang surut itu hanya datang dari mata air yang selalu kita abaikan selama ini: bertukar kisah.

Ya, bukankah kita hanya butuh saling bercerita barang lima menit saja?