Home Blog
Post
Cancel

Belajar Gelisah dari Gie

Masih teringat jelas momen dan nuansa ketika aku pertama kali membaca Catatan Seorang Demonstran. Buku bersampul hitam, putih, dan merah menyala itu sering aku bawa di saat-saat “menunggu” di asrama. Menunggu bergantian menggunakan mesin cuci; menunggu makan malam selesai dimasak; menunggu piket di waktu maghrib; menunggu kantuk datang di bawah cahaya lampu tabung yang terpasang 2 meter dari kepalaku. Membosankan sekali ya? Tapi semenjak itu aku tidak pernah bosan.

Catatan itu hanyalah entri-entri diari Soe Hok Gie, namun dampaknya tidaklah hanya. Ada alasan kenapa tulisan hariannya pantas menjadi buku. Ada alasan lain pula mengapa skripsi S1-nya pantas dibukukan. Ada alasan holistik mengapa kisahnya dilayarlebarkan.

Soe Hok Gie Soe Hok Gie

Sosok Gie sangatlah berkesan. Bagiku, saat itu adalah kesempatan yang bagus untuk melihat kontras antara kepribadian Gie — yang aktif, kritis, rebellious, anti-establishment, dan peduli dengan ketidakadilan di sekitarnya — dengan kecenderunganku saat itu: pasif, penurut, kameleon, pencari sandaran, dan apatis. Sedikit dari semangat penulis diari tersebut sepertinya merasuk kepadaku lewat jari-jari yang meraba atau mata yang melihat rajutan kata-katanya. Minimalnya, saat itu aku belajar untuk mulai peduli, di mulai dari lingkungan kemahasiswaan.

Dimulailah perjalanan dan ekperimen-eksperiman yang selalu menempatkan diri dalam kondisi kegelisahan — salah satu prekursor peduli. Kegiatan A, B, C diikuti. Tugas X, Y, Z dilibas. Diskusi O, P, Q digelar. Sialnya, untuk beberapa urusan, aku terlalu peduli pada hal-hal di luar kapasitas eksekusiku ketika itu. Justifikasinya adalah, “Tidak banyak yang peduli pada masalah ini! While I’m at it, biarkan aku mengedukasi orang lain tentang problematika yang ada.”

a lonely duck Misleading illustration. I’m not alone like this duck. Duh. Hopefully.

Hasilnya? Ah, memang siapa yang tahu persis hasilnya? Sejujurnya aku merasa usaha-usahaku tidak cukup produktif — menurut pandangan ini yang terbatas. Jika dilihat dari satu sisi, memang kesannya hanya membakar diri dan emosi. Mungkin seni peduli telah salah diaplikasikan. Aku mulai menyalahkan orang-orang yang tidak mau peduli, dengan tak lupa menyalahkan diri yang tidak cukup all-out nan kaffah dalam menyeru isu.

Maka cemburulah daku pada Soe Hok Gie, yang mati-matian menyuarakan keadilan di masa-masa mencekam.

Tapi apakah Gie pernah menyalahkan diri untuk kegagalan-kegagalan yang mungkin pernah ia alami?

Itu adalah pertanyaan mengawang yang tidak aku beri konklusi, hingga pertama kali status pelajarku terlepas. Gie pernah menulis pada seorang sahabatnya:

“Since graduating, I’m beginning to feel gelisah. I’m teaching at the Fakultas Sastra. Mainly routine, boring duties. I feel a growing gap between myself and my old world, a world I love very much — the student world. Emotionally, I’m still a student, though I have a teacher’s status. I’m finding it difficult to adapt myself emotionally to my new condition. If I have no work to do, I find I can’t stay at home. … I don’t know whether this is just a stage, or whether it’s a sign that I’ll always be gelisah, and unable to live in peace.”

Ternyata, aku dan Gie pernah berada di kondisi yang sama: tersiksa karena peduli namun tidak bisa “beraksi” dengan cara yang diharapkan. Ya, si gelisah itu sendiri. Spesifiknya, hidup di luar dunia (maha)siswa.

Teorinya

“Gelisah.” Dalam konteks diskusi ini ia kini aku definisikan sebagai

suatu kondisi di mana seorang agen memiliki kapasitas peduli terhadap suatu masalah, namun tidak bertemu dengan kesempatan melakukan perbuatan yang cukup bermakna demi penyelesaian masalah tersebut.

Aku percaya definisi yang lebih spesifik ini mampu membuka potensi perkembangan/perbaikan yang lebih terarah pula.

Maka, mari tilik kembali. Apa sebenarnya yang engkau pedulikan? Apakah kapasitasmu untuk peduli sudah cukup besar? Apa sebenarnya aksi-aksi yang kau anggap bermakna? Apa solusi yang bisa engkau cetuskan?

Bahkan Rasulullah Muhammad saw sampai akhir hayatnya masih gelisah. Di nafas-nafas terakhirnya, beliau masih sempat mengekspresikan kepedulian dan berucap, “Ummati, ummati, ummati…” Rasulullah saw peduli dengan misinya untuk memperbaiki akhlak seluruh manusia. SELURUH manusia, termasuk yang baru lahir ketika Rasulullah saw telah tiada — hilang kuasa langsungnya. Tapi the perks of being Rasulullah adalah apa yang ia usahakan dan doakan untuk umatnya sudah dijamin kebermaknaannya dan keampuhannya oleh Yang Maha Kuasa.

Pertanyaannya: dengan kegelisahan sebesar itu, apakah Rasulullah saw bisa hidup dalam ketenangan?

Gelisah dan tenang — terdengar kontradiktif, but please bear with my definition of gelisah. Aku pikir dua-duanya bisa eksis bersamaan pada diri seseorang. Akal dan tangannya gelisah, tapi hatinya tenang. Di sinilah PR mempelajari seni ketenangan yang Rasulullah saw ajarkan.

Sehingga aku tidak akan menjadi Gie yang gelisah dan tidak tenang. Aku tidak ingin menjadi Gie. Darinya, aku hanya akan belajar seni bergelisah.

Praktiknya

Menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kepedulian tadi tidaklah semudah menggerakkan lidah, kecuali kita adalah orator yang handal dan sudah punya banyak bahan. Pasti kita butuh duduk, merenung, dan menulis. Gie banyak menuliskan kegelisahannya melalui artikel yang ia kirim ke koran. DIKIRIM KE KORAN. Koran sekarang bukan hanya koran. Bahkan aku punya koranku sendiri, kamu punya koranmu sendiri: media sosial, Medium, blog.

Pertama, jika kamu peduli dan gelisah, maka ejawantahkan kegelisahanmu dalam bentuk tulisan. Meski nyalimu terlalu ciut untuk mempublikasikannya, pantaskanlah isi tulisan dan formatnya. Artinya, tulisan itu bukan sekedar keluhan membludak tanpa tujuan, tapi harus mampu dicerna dan diikuti oleh selain yang menulis. Within a neat writing, there are a neat thinking.

Kedua,

memangnya kamu butuh yang kedua? Yang pertama saja sudah sulit.

Atau terdengar sulit.

…mengingat hanya dengan catatan hariannya saja, Gie mampu mengetuk kegelisahan banyak orang.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.