Home Blog
Post
Cancel

Tumbuh dengan Berbagi Kerentanan

Di suatu hari di antara pukul 10 dan 12 siang, seorang mahasiswa prasarjana dengan terbukanya curhat ke suatu pertemuan daring, yang kurang lebih berbunyi,

“Aku teh sebenarnya insecure pas ngisi dokumen ini (dokumen refleksi). Aku ngerasa belum banyak berkontribusi di tim.”

Tentu perkataan itu sebenarnya tidak disampaikan dalam bahasa Indonesia-Nyunda seperti yang saya lakukan biasanya. Ia disampaikan secara fasih dalam bahasa Inggris berlogat Chinese.

Dalam hati saya menjawab,

“Aduh, dek, urang ge insecure, sumpah. Tapi aku harus ngomong apa? Ketua grup harus bisa nanggepin dan memotivasi anggotanya shshshhhh wkwk (merasa lucu dengan diri sendiri, maksudnya).”

sapi jamet skotlandia Contemplating my own vulnerabilities.

Dari titik itulah, saya semakin sadar akan adanya orang-orang yang begitu mudah terbuka dengan hal-hal yang membuat ia merasa rentan (vulnerable). Terlebih kepada orang lain yang baru saja ia temui dan tak pernah bertatap muka langsung, bagaimana bisa? Saya begitu salut pada teammate yang satu ini. Ia khawatir atas minimnya kontribusi dia sejauh ini di pekerjaan kami. Namun ia tidak tinggal diam dan tenggelam menghilang, ia berbicara.

Pada orang berhati lembut seperti ini, setidaknya ada dua respon yang bisa kita beri. Pertama, mencoba menguatkan dengan ucapan-ucapan semangat secara satu arah. Kedua, sama-sama membuka diri dan membiarkan ia mendengar lalu meraih kekuatannya sendiri.

Saat itu saya memberikan tipe respon kedua. Tidak dalam konsep vulnerability ketika itu saya berpikir, tapi dalam konsep the golden rule — memperlakukan seseorang sebagaimana saya ingin diperlakukan. Dalam kondisi tersebut, saya akan tambah merasa tenggelam kalau ditanggapi dengan ucapan “ganbatte yo!” atau “u can do ‘dis, mate!” Sehingga, saya memilih alternatifnya: membuka jua sisi kerentanan diri. Saya bilang bahwa kerjaan saya sejauh ini hanya memulai dan mengakhiri meeting; diskusi kritis hanya secuil sana-sini; perut saya suka mules tiap ditanya pendapat; etc. Saya merasa tidak sepenuhnya aman. Saya merasa rentan untuk pergi dan punah dari misi program ini.

Ini mengerikan. Ini menarik. Saya membuka diri kepada orang-orang yang entah kapan lagi akan saya temui. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, bukankah selama ini itu yang sering saya lakukan? Apalagi setelah dikonfirmasi oleh seorang teman baik yang mengamati bahwa, “dulu kamu tuh cenderung susah dijangkau dan diminta cerita,” tapi dilanjutkan dengan, “…(sekarang) malah gak habis bahan (cerita).”

Saya tidak tahu kapan pastinya saya berubah. Sering sekali kita tidak menyadari perubahan dalam diri. Banyak hal terjadi dan waktu cepat berlalu, lalu sebagian kawan kita terkaget-kaget atau justru tidak merespon perubahan-yang-tak-disadari-diri itu sesuai ekspetasi kita, mengganggap diri kita tidak dimengerti mereka. Padahal, sebenarnya kita sendiri yang tidak jeli. Heh, sungguh aneh manusia ini.

Scratch that. Kembali ke perihal berbagi kerentanan.

Setelah pertemuan refleksi tersebut, setelah mengafirmasi berbagai amal baiknya yang saya ingat, kawan tim yang telah bercerita ini terlihat semakin konsisten menjalani bagiannya. Sampai akhir program, kontribusinya tidak kurang, tidak berlebihan, pas sesuai kebutuhan tim. Siapa yang tidak senang memiliki kolega yang seperti itu?

Kawan saya yang satu ini mendapatkan energi yang baik dari hasil celetukannya yang ditanggapi dengan hati-hati. Sepertinya ia berhasil tumbuh menghadapi rasa ke-tidak-amannya. I’d like to think so.

Seberes berkontemplasi tentang pengalaman berhasil ini, saya setidaknya punya beberapa aturan untuk diri sendiri dalam menanggapi lawan bicara, yang secara sadar maupun tidak sadar sedang dalam posisi rentan nan kebingungan, dengan tanggapan membuka kerentanan saya juga jika:

  1. kalau posisi dan interest saya dan lawan bicara ini cukup “sama dan setara” (oh, silakan definisikan sendiri);
  2. kalau saya percaya bahwa si lawan bicara cukup cerdik dalam mengambil kesimpulan sendiri dengan baik dan tidak akan judgemental — suatu asumsi yang menurut saya harus auto dipakai, kecuali sudah terbukti sebaliknya;
  3. kalau saya yakin kita punya cukup energi dan waktu untuk bertukar cerita yang sebanding secara utuh dan mampu berkomunikasi dengan atensi penuh di saat itu.

Jika ada salah satu persyaratan tidak terpenuhi, maka respon saya adalah “Semangat, ya!”

Persyaratan paling sulit bagi saya adalah yang pertama. Di sana, kita perlu mengikis ke-naif-an diri dengan menyadari bahwa orang lain tidak akan selalu peduli dengan segala kisah kita. Dan kalaupun peduli, apakah mereka peduli untuk tujuan yang baik? Namun, di sisi lain, sekali-kali terlalu jujur mengenai bagaimana kita terseok-seok untuk menyelamatkan diri juga bisa jadi bahan inspirasi untuk audiens yang lebih hijau, atau jadi objek dikasihani dan menghasilkan potensi untuk dibantu oleh mereka yang lebih berpengalaman.

Tentu saja hidup bukan sekedar algoritma if-else. Keputusan final berada pada kebijaksanaan di momen saat situasi itu terjadi. Apa yang penting di sini adalah usaha melatih diri untuk sering mengevaluasi posisi, memberikan respon yang adil untuk lawan bicara, menghargai usaha mereka untuk terbuka, dan berinteraksi dengan mereka layaknya mereka adalah makhluk yang mampu berpikir rasional dan pandai mengambil sari pati kehidupan.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.