Home Blog
Post
Cancel

Gagasan dan Kesempatan

illustration Photo by Vale Zmeykov on Unsplash

Setiap orang besar mempunyai gagasan.

Elon Musk berbicara tentang kehidupan manusia di Planet Mars.

Steve Job terkenal dengan desain teknologi yang sederhana dan berkualitas.

Muhammad Natsir menggagas integrasi Islam, negara, dan politik.

Hassan Al Banna mempromosikan konsep persaudaraan global umat Islam.

Abraham Lincoln memperjuangkan kemerdekaan budak.

Nabi Ibrahim as menanam konsep Tuhan yang satu.

Siapa pun punya peluang untuk terkenal. Siapa pun punya peluang menjadi pemimpin. Siapa pun punya peluang menjadi orang yang berpendidikan tinggi. Tetapi tidak semua orang mampu untuk merangkai gagasan.

Gagasan bukanlah opini 144 karakter. Gagasan bukanlah tangkapan sesaat yang beberapa jam kemudian mendapat sejuta hati. Apalagi, gagasan bukanlah klaim-klaim akrobatik pengguncang saluran berita.

Gagasan itu bagaikan gunung es. Nampak kokoh tetapi pondasinya jauh lebih gigantik dan padat. Ia adalah akumulasi pengetahuan, pemahaman, pengalaman, dan hikmah kehidupan seseorang yang disajikan dalam suatu jargon singkat. Ia dibayar dengan keringat, waktu, dan pengorbanan orang lain. Mahal sekali harganya.

Umat manusia ini terbagi menjadi tiga kategori.

  1. Mereka yang tak punya gagasan. Inilah kita pada umumnya. Pengikut. Anggota arus. Mendorong roda dunia berputar tapi tak punya kendali ke mana ia akan berlari.
  2. Mereka yang punya gagasan tetapi tak ada kesempatan. Inilah orang-orang berhati melankolis. Hari-harinya resah dan gundah. Mereka adalah penunggu sejati seseorang atau sesuatu menghampiri mereka dan berkata, “Akan aku wujudkan mimpimu”, tetapi sampai sekarang hanya bisa menggigit jari saja.
  3. Mereka yang punya gagasan dan kesempatan. Inilah yang sering kita lihat di etalase-etalase toko global dan panggung dunia. Mereka adalah dalang, baik langsung maupun tidak langsung, dari terjadinya tikungan sejarah.

Bagi orang di sekitarnya, mereka yang punya gagasan dan kesempatan ini hanyalah manusia biasa. Mungkin sedikit gila, tapi masih manusia juga. Orang-orang ini makan seperti yang lainnya, belajar seperti yang lainnya, tidur seperti yang lainnya. Perbedaannya terletak pada mimpi, ambisi, dan kekuatan pondasi.

Semua orang berawal dari kategori 1. Dengan dimilikinya kemerdekaan, setiap insan akan mampu untuk bermimpi. Mimpi itu hanya akan jadi angan-angan jika tidak didasarkan pada pondasi kehidupan maupun keilmuan yang kuta. Suatu saat, dengan hikmah Tuhan, semuanya bertemu di satu titik yang sama: gagasan.

Ada yang bilang kesempatan itu hanya sekali. Tentu tidak! Kesempatan itu selalu ada. Masalahnya terletak pada ke mana kita harus mencari, ke mana kita harus memusatkan pandangan.

Ya, semuanya bisa diusahakan dengan ridho Tuhan.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.