Home Blog
Post
Cancel

3 Pelajaran dari The Kite Runner: Novel Terbaik

Judul novel perdana dari Khaled Hosseini ini sudah berkali-kali muncul sebagai rekomendasi di akun Goodreads-ku. Kisah ini digadangkan sebagai salah satu novel terbaik di abad 21.

Saat aku melihat deskripsinya, aku tidak begitu tertarik. Kisah dua anak kecil yang jago bermain layang-layang di suatu negara yang porak poranda karena perang? Tidak banyak mendapatkan perhatianku yang cenderung lebih menyukai misteri dan fantasi.

Singkat cerita, di masa liburan ini aku memiliki uang yang cukup berlebih untuk membeli beberapa buah buku. Meski dengan sepenuhnya sadar bahwa masih banyak judul yang belum tertuntaskan, kebiasaan burukku yang merindukan bau segar kertas buku baru masih belum bisa aku bendung. Setelah menghapus banyak item dari keranjang toko online, di bulan Juni lalu aku membeli lima buah buku. Salah satunya adalah novel terjemahan The Kite Runner.

Buku The Kite Runner

Setelah menerima buku itu dari pengantar paket aku menatap sampulnya lekat-lekat. Sampul itu bergambar lukisan cat air dua anak laki-laki sedang bermain layang-layang di sebuah lapangan kota. Ini mengingatkanku pada buku puisi bergambar 48 halaman, Sea Prayer, yang aku hadiahkan untuk sepupuku. Aku baru sadar bahwa pengarangnya sama.

Novel ini menceritakan seorang anak Afghanistan bernama Amir dan pelayan berumuran sebayanya, Hassan. Hubungan mereka sangat dekat, layaknya saudara kandung. Kisah mereka mulai menegang setelah turnamen layang-layang yang mereka menangkan selesai. Ah, aku tidak ingin banyak menceritakannya di sini, karena alur ceritanya sendiri banyak membuatku terkaget-kaget. Pantaslah ia menjadi worldwide bestseller. Aku hanya bisa mengatakan bahwa cerita ini adalah tentang penyesalan, penyesalan, penyesalan, dan penebusan dosa.

Banyak nilai-nilai berharga yang buku ini ingatkan padaku. Sebenarnya pelajaran tersebut sudah pernah aku pahami. Tapi suatu cerita fiksi yang bagus selalu dapat memberi konteks yang lebih dalam, hingga nilai-nilai kehidupan tersebut bisa meresap lebih baik lagi.

Aku bisa berani mengatakan ini adalah salah satu novel terbaik yang pernah aku baca.

1. Semua jenis kejahatan adalah pencurian.

Kesimpulan yang menarik. Mencuri barang adalah pencurian hak milik yang dicuri terhadap barang yang dicuri. Berbohong adalah pencurian kebenaran dari orang yang dibohongi. Membunuh tanpa didasari hukum adalah pencurian nyawa dari orang yang dibunuh. Berkata kasar adalah pencurian hak orang yang dikasari terhadap keberadaban ucapan manusia padanya.

2. Berbuat baiklah seluas-luasnya. Tinggalkan legacy sebanyak-banyaknya.

Tokoh Baba mengaplikasikan poin ini di seumur hidupnya.

3. Setiap orang baik akan selalu mencoba memikirkan pilihan terbaik yang bisa ia pikirkan pada saat itu.

Ya, kadang keputusannya tidak selalu berbuah manis.

Seorang anak kecil seperti Amir tidak mungkin bisa memikirkan sikap terbaik ketika dihadapkan pada peristiwa mengejutkan seperti itu. Saat itu, baginya, itulah yang terbaik. Aku pun mungkin begitu.

4. Tuhan tidak hanya di langit atau di dalam benak ketika kita tersungkur sujud di lantai.

Ia juga berada di mata orang-orang yang berjuang tulus untuk suatu kebaikan.


Apa lagi? Harusnya banyak. Sepertinya aku masih perlu mencerna kisah yang baru aku baca dalam enam hari dan aku bereskan dua jam yang lalu.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.