Home Blog
Post
Cancel

Menjaga Memori Mengembara

“Nah, Ilma kalau jadi PJ (penanggung jawab) buat tim desain dan dokumentasi, kira-kira menyanggupi, gak?”

Kala itu Senin siang di bulan awal bulan Desember 2019. Dengan ringannya aku memberikan afirmasi pada pertanyaan dari Ketua Asrama Mengembara tersebut yang disampaikan lewat chat Line. Diberikan sedikit tanggung jawab tak apa-apa, lah. Toh, selama ini aku hanya membantu potong-potong kertas dalam usaha bersamanya program ini. Selain itu, mencari tabungan untuk diriku sendiri. Lagi pula, sepertinya aku cukup terbiasa berkutat dengan desain atau dokumentasi, tidak perlu dianggap beban. Tanpa banyak berpikir, aku tutup kembali layar gawaiku, melanjutkan latihan soal untuk ujian yang pelaksanaannya tinggal menghitung jam.

Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk cepat memberi keputusan. Lalu keputusan tersebut diproses sangat lama di alam bawah sadar. Bisa sehari, dua hari, seminggu, bahkan berbulan-bulan–tergantung seberssdkapa penting atau berat keputusan tersebut. Proses pengolahan ini biasanya memberikan satu dari dua kemungkinan: biasa saja atau menyesal sementara.  Jika biasa saja, artinya keputusan tersebut sudah aku anggap tepat, aku amini. Jika menyesal, ada dua kemungkinan lagi: panik menanggung konsekuensi atau berusaha menarik diri. Kali ini aku melakukan kedua-duanya.

Beberapa hari setelah pesan itu aku balas, aku mencoba berkompromi bahwa aku sedang fokus mengerjakan hal lain. Aku tidak bisa banyak membuat desain, mengonsep aftermovie, dan tetek bengeknya. Aku meminta untuk dicarikan pengganti sebagai PJ.

Pada akhirnya, sebagian amanah tersebut masih berada di pundakku. Dibarengi dengan kepanikan internal di tempat lain, kepanikan mendokumentasi kegiatan Mengembara melanda jua. Berkali-kali mendokumentasikan LMD yang hanya tiga hari tiga malam dengan banyak orang saja masing sering _miss-_nya. Ini, ke Korea nun jauh di sana, bisa jadi sekali seumur hidup, tujuh hari tujuh malam? Dengan ekspektasi tinggi dan tuntunan pertanggungjawaban?

Untukku, Mengembara ini adalah hal yang besar. Inilah pertama kalinya aku memiliki arah untuk mencari penghasilan sendiri. Pergi dari Salman ke Buah Batu malam-malam di bulan Ramadhan buat ngajar privat anak SMA. Makan sarapan hampir tiap hari hanya dengan pisang Kantin Salman. Buka halaman Kemahasiswaan ITB seminggu sekali buat update info beasiswa. Jadi Trainer LTPB. Membuat desain kaos sendiri selain buat usaha bersama. Semuanya didasari oleh semangat Mengembara.

Sayang sekali jika pengalaman ini tidak cukup diabadikan dengan dokumentasi yang cukup baik.

Ah, memang harus berkorban. Untuk mengerjakan sesuatu yang penting, kadang trust issue muncul. Sepertinya aku kerjakan bagian-bagian intinya sendirian saja. Biar kalau ada kesalahan, cukup aku yang disalahkan. Pikiran tersebut muncul berkali-kali. Aku percayakan bagian-bagian terpisah dari inti dokumentasi ke segelintir orang.

Mendekati hari H, aku sudah menyiapkan beberapa hal. Aku membeli mikrofon eksternal dan baterai baru untuk kameraku. Dengan sedikit kalkulasi perasaan dan pengalaman, aku yakin Nikon D5300 usangku ini bisa mengambil foto dan video footage secara hemat sampai dua belas jam. Selain itu, aku membeli stabilizer seadanya–buah kepanikan–yang setelah dipikir ulang, rasanya akan sangat menjemukan membawa barang seberat ini ketika berjalan-jalan di Seoul. Kemudian aku belajar berbagai teknik videografi yang belum pernah aku coba dan berusaha mengonsep video perjalanan–tidak beres juga.

Malam keberangkatan, aku yang harusnya ikut briefing di GSS setelah isya malah berbaring terkapar di kamarku di asrama. Sakit perut, pusing, dan badan lemas melandaku sejak maghrib. Aku tahu jelas apa penyebab sakitnya dan di masa letak kesalahanku. Aku membayangkan berbagai usaha untuk Mengembara selama 9 bulan terakhir akan sedikit dikecewakan dengan tidak pergi ke tujuan. Tetapi aku tidak punya tenaga untuk panik dan overthinking lagi. Aku terlelap malam itu, mengabaikan berbagai chat yang masuk, orang-orang mempertanyakan keadaan dan keberadaanku.

Alhamdulillah, Allah Swt ternyata memang perencana terbaik. Aku dibuat tidur sangat cukup di malam itu sehingga paginya aku bangun dengan bugar dan bersemangat. Segalanya berjalan dengan lancar. Bahkan ketika sudah di Korea, aku sedikit kaget dengan ketenanganku menjalankan tugas dokumentasi ini.

Singkat cerita, inti kegiatan selesai, menantilah pertanggung jawaban. Aku kembali panik dengan jumlah dokumentasi yang ada. Pengerjaan after movie sudah kucoba untuk dicicil tetapi memang ia tak habis-habis. Tak hanya butuh niat dan energi yang besar, tetapi harus ada keikhlasan untuk meluangkan 2-3 hari penuh untuk fokus mengedit video. Akhirnya kombinasi niat, energi, dan nikmat waktu luang itu baru aku dapatkan tepat 2 bulan dari waktu pertama kalinya aku meninggalkan Indonesia.

Di akhir proses editing, aku berefleksi tentang beberapa belas jam yang baru saja aku habiskan dengan menatap tampilan layar laptop. Ternyata ketika memulai, tidak banyak kepanikan yang melandaku saat mengerjakan tugas ini. Mungkin saat mengedit video ini bedanya terletak pada jeda antara kepanikan  itu awal menyerang dan kapan aku benar-benar bertindak–2 bulan. Perbedaannya ada satu lagi: keikhlasan di awal.

Memang ketika dihadapkan dengan hal yang tidak sesuai ekspektasi, menarik diri bukanlah kehebatanku. Aku hanya bisa panik. Panik sudah menjadi salah satu reaksi naturalku. Jika tidak terlihat oleh orang, pasti ada dalam internal. Dan lagi-lagi, aku teringat dengan kata-kataku sendiri di depan maba-maba tahun lalu: stop, think, do. Ternyata, bagiku formula tersebut tidak cukup. Harusnya: stop, ikhlas, think, do. Keikhlasan menyertai aksi. Bukan aksi yang memaksakan keikhlasan.

Ya, aku aku sangat puas dengan segalanya.  Aku bersyukur bisa berperan dalam menjaga memori pengembaraan 11 bulan ini. Semoga segala kekuranganku dalam mengemban amanah ini dapat dimaafkan oleh teman-teman Mengembara dan semua pihak terkait. Terima kasih telah memberikan banyak pelajaran, salah satunya tentang kepanikan.


This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.