Home Blog
Post
Cancel

Tiga Renungan Dari Pinggir Sungai

Aku tidak pernah menyadari sebelumnya bahwa aku akan “menikmati” sungai sedalam ini, meski hanya berdiri di pinggirannya. Ada kebahagiaan yang baru terbuka.

River Cherwell, Oxford River Cherwell, Oxford

Lebih dari dua puluh tahun aku hidup, sungai bukanlah bagian dari alam yang dekat dengan keseharianku. Dia hanyalah sesuatu yang eksis di bawah jembatan-jembatan yang aku lalui tiap hari. Kebiasaan masyarakat sekitar justru menanamkan asosiasi negatif terhadap sungai. Bagaimana tidak, jika setiap kali aku melewatinya selalu tercium semerbak bau tumpukan sampah rumah tangga?

Tanpa ada niatan di awal, perspektif itu berubah perlahan. Semenjak menginjakkan kaki di tanah Britania Raya, sungai selalu muncul dan menghentikan langkahku setiap kali suatu kota dikunjungi. Fitur alam ini menjadi begitu dekat dan menyenangkan. Entah bagaimana prosesnya, sungai telah menjadi tempatku merenungi hal-hal yang… sering aku renungkan.

Water of Leith, Edinburgh Water of Leith, Edinburgh

Mengalir

Satu karakter yang mencolok dari sungai bagiku adalah mengalirnya air yang ia tampung. Alasan mengapai ada aliran tentunya karena adanya perbedaan ketinggian. Dengan segala lekak lekuk alurnya, sungai memiliki kepastian kuat ke mana ia harus pergi, dan tidak ada pilihan lain lagi: kerendahan.

Jika perenungan tadi dikontekstualisasi ke dalam diriku, maka dari sungai aku mengilhami kembali muara kehidupanku. Pada akhirnya ke mana aku akan pergi? Dalam skala mikro ataupun makro, apakah tujuan akhir itu begitu pasti atau terus berganti-ganti?

Kemudian, layaknya alur sungai, kehidupan tidak akan lurus-lurus saja. Andai begitu, maka tidak akan ada misteri dan kejutan tentang arus dan medan seperti apa yang akan aku temui di belokan selanjutnya. Bukankah itu yang membuat hidup mendebarkan, menyenangkan, serta mudah untuk jadi objek sabar dan syukur kita?

Sekali lagi, tak ada sungai yang airnya diam di tempat. Kawannya silih berganti dan setiap tempat adalah persinggahan sementara. Ia menghidupi sekitarnya dari satu mintakat ke mintakat selanjutnya, sebelum akhirnya bermuara. Ketika airnya terlalu lama diam di tempat, tampilannya keruh dan mengundang sejuta penyakit bagi yang ingin mengambil manfaat darinya. Bagiku, itulah ciri utama yang membuat sungai begitu memikat.

River Aire, Leeds River Aire, Leeds

Hidup

Lalu bagaimana sesuatu yang terus menuju kerendahan mampu kontinu memberi kehidupan?

Ekosistem. Banyak sistem yang bekerja di dalamnya — energi yang berpindah dari satu organisme ke organisme lain. Semuanya mengikuti arus alami. Meski tidak jarang ada satu-dua yang tidak menuruti seratus persen arus sungai, semua itu dilakukan dalam kadarnya untuk terus mencapai harmoni hidup dan tidak merusak nilai utama dari sungai itu sendiri. Dan yang utama, semua atas rahmat Yang Maha Kuasa.

Ketika barang asing dari “kehidupan lain” tiba-tiba masuk ke dalam sungai, terjadilah disrupsi. Bisa jadi ada kehidupan yang dirusak. Paling tidak parah, sungai kehilangan estetikanya.

Lalu apakah sungai setertutup itu? Menurutku tidak. Hanya saja, setiap barang asing (seperti sampah rumah tangga) yang akan dilepaskan ke sungai perlu untuk difilter dan diolah terlebih dahulu.

Lagi, mana yang aku biasa lakukan dalam hidupku? Apakah aku sering menelan sesuatu mentah-mentah sehingga ada bagian dari diriku yang menjadi “mati”? Apakah aku punya alat filter dan olah yang kuat dan berguna? Apakah aku sendiri sudah bisa “hidup” untuk bisa menghidupkan sekitarku? Bagaimana aku mengatur energi dan sistem-sistem di urusan sehari-hari dan memastikannya terus bermanfaat sebelum aku akhirnya bermuara?

River Thames, London River Thames, London

Reflektif

Apapun warna airnya, sungai tidak pernah berbohong tentang apa yang ia refleksikan. Merah tetaplah merah dan hijau tetaplah hijau. Sekalipun airnya hitam sehingga banyak menyerap energi dari cahaya yang ia terima, masih ada sebagian yang dia kembalikan.

Yang membuat aku terpesona adalah menarinya warna-warni cahaya di riak permukaan sungai ketika aku memerhatikannya sembari berjalan. Pemandangan seperti itu membuatku lebih menyadari bahwa dunia ini begitu gemerlap, dan sekaligus sebaliknya, gelap. Bagiku, manusia memperterang dunia mikroskopisnya tapi turut kehilangan cahaya makroskopis. Ya, sungai begitu indah ketika merefleksikan warna lampu dari bangunan-bangunan cantik itu, namun kapan dan di mana aku bisa melihat refleksi cahaya bintang dan bulan?

Tidak semua sungai (atau bagian dari suatu sungai) mempunyai karakter reflektif. Karena akan sulit untuk bisa reflektif jika tidak ada ketenangan. Dan tenang bukan berarti diam. Tenang adalah keseimbangan antara terjagannya pergerakan namun tetap bisa mengindra secara jernih pemandangan di dalam dan luar. Dan memang tidak semua jengkal sungai harus seperti itu. Karena lagi-lagi, keindahan ada di dinamisnya alur sungai.

River Ouse, York River Ouse, York


Kini apa yang aku lihat dari sungai?

Gemericik air yang perlahan mengalir.

Pusaran mini yang terurai lalu mengumpul kembali.

Makhluk-makhluk bernyawa yang mencari penghidupan dan ketenangan.

Tak lupa cahaya matahari yang letih menerpa permukaan sungai,

seletih mataku yang mencoba terus mencerna kehidupan.

Tapi dengan sadar itu saja

aku sudah bahagia.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.