Home Blog
Post
Cancel

3 Pelajaran dari Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Buku yang 20 halaman pertamanya membuatku menangis. Sudah lama sekali aku tidak membaca fiksi dan terbawa emosional. Terakhir kali itu terjadi adalah empat tahun lalu ketika aku membaca akhir dari Mockingjay, tepatnya di bagian… uh, bagian itu.

Semua orang mengenal Buya Hamka dengan Tafsir Al-Azhar-nya. Tapi tidak banyak yang mengenal bakat sang ulama dalam mencipta hikayat roman. Aneh, ya? Seorang pemuka agama mengarang cerita cinta. Bukan suatu hal yang engkau dengar sehari-hari. Tapi itulah uniknya Abdul Malik Karim Amrullah, almarhum. Semoga beliau selalu dirahmati oleh Allah Swt.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck menceritakan dinamika rasa antara Zainuddin, pemuda berbudi luhur yang tak diakui di mana-mana, dengan Hayati, seorang bunga desa. Apa hubungannya dengan sebuah kapal yang tenggelam? Ya, mungkin kita langsung bisa menebak-nebak. Peluangnya setengah-setengah.

Kali ini aku tidak bisa banyak bercerita. Namun, itu tidak berarti mengurangi penghayatan tiga pelajaran dari novel ini.

“Ya, demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walaupun kecil, dan dia lupa kekejamannya sendiri kepada orang lain walaupun bagaimana besarnya.” — Zainuddin

1. Ubah kesusahan menjadi kekuatan

Kesusahan dari Zainuddin adalah dia hampir selalu “ditinggalkan” oleh orang-orang sekitarnya. Kesusahan itu ia tabung menjadi bekal bahan cerita untuk hikayat-hikayatnya yang masyhur. Sudah dijanjikan, bukan, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan?

Adapun Zainuddin tidak semerta-merta langsung bersemangat: “Yo, kehidupan! Aku harus tetap positip thinking dan esok pasti aku berhasil! Aku tidak mungkin bersedih karena aku pasti bahagia! Hahaha!” Orang dengan karakter yang luhur pun bisa terjerembab pada duka yang sangat mendalam hingga penampakannya tinggal kulit saja menempel ke tulang. Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing. Satu kuncinya: Zainuddin tetap bersabar, memindahkan fokus, lalu maju mengembangkan kelebihannya.

2. Jujurlah terhadap diri sendiri dan orang lain dengan cara yang baik

Aku kagum dengan keterbukaan isi surat-surat antara Zainuddin dan Hayati. Jujur, straight-forward, tanpa sinyal-sinyal tak jelas, dengan tutur bahasa yang elok dan niat yang lurus. Sudah sangat cocok kedua insan ini untuk bersatu. Sayangnya, adat dan harta menjadi tembok besar di antara mereka.

Mereka saling jujur dengan perasaan mereka sendiri. Kekecewaan pun! Aku terhenyak dengan kata-kata Zainuddin seperti pada quote di atas tulisan ini.

…Kecuali beberapa saat sebelum Van der Wijck berlayar.

3. Nikahilah seseorang karena agamanya

Kekunoan adat memang menjadi penekanan dalam cerita ini. Ia bisa meruntuhkan harapan dan menghancurkan hubungan yang tulus. Di sini, Hayati sebagai anak perempuan kebanggaan keluarga besarnya harus menanggung beban akibat menikah karena adat dan harta.

Buya Hamka ingin menyampaikan bahwa agama memang menjadi pedoman hidup yang utama, paling luhur, final. Termasuk dalam hal memilih orang untuk dinikahi. Karena dikatakan bahwa menikah adalah separuh dari agama dan ia bukanlah perkara mudah.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.