Home Blog
Post
Cancel

3 Pelajaran dari The ICLIF Leadership Competency Model (LCM): An Islamic Alternative

Buku ini adalah pilihan yang bagus untuk memulai tahun 2021 Masehi. Menurutku, selain non fiksi, genre buku ini adalah campuran dari genre agama, kepemimpinan, dan pengembangan diri. Mungkin bacaanku masih sedikit, tapi ini adalah pengalaman pertama di mana aku benar-benar puas dan merasa “lengkap” ketika membaca suatu buku non fiksi. “Lengkap” di sini adalah bahwa penulis mampu membuat suatu narasi lengkap yang mampu menghubungkan gagasan nilai dalam Islam ke kepemimpinan, sampai pada tata kelola bisnis dan manajemen yang praktis.

Buku ini pun aku baca pada lini masa diri yang tepat. Meski sedang tidak dalam posisi kepemimpinan di suatu organisasi, aku sedang memiliki ambisi memperbaiki kepemimpinan terhadap diri sendiri — satu aspek kepemimpinan yang kadang banyak orang lupakan.

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. — Rasulullah s.a.w

Sekedar informasi tambahan, kata “ICLIF” pada judul buku ini adalah nama suatu organisasi. Penjelasan dari pencarian Google mengatakan, “The Iclif Leadership and Governance Centre is non-profit organisation in Kuala Lumpur, Malaysia, dedicated to executive education, research, coaching and advisory services in the areas of leadership development and corporate governance.

Untuk mengkristalkan ilmu dan pandangan-pandangan yang didapat dari buku ini, aku mencoba untuk mengambil tiga hal yang menurutku adalah intisari, lalu akhirnya dibuatlah tulisan ini. Karena prinsipnya: jangan sampai aliran ilmu itu berhenti di diri sendiri!

1. Seorang pemimpin harus paham konsep diri dan hidupnya

Masalah kepemimpinan ini menurut penulis bermuara pada persoalan kewajiban dan tanggung jawab. Kepemimpinan adalah amanah. Pada dasarnya, pertanggung jawaban amanah adalah kepada Tuhan. Di sinilah kita menerapkan pemahaman kita bahwa Islam adalah agama yang menyeluruh, kaffah — segala urusan kehidupan pasti ada dasarnya di agama.

Untuk mendapatkan pemahaman pembaca yang lebih kokoh, penulis menjabarkan konsep-konsep kunci yang harus dipahami dalam Islam (tentang Tuhan, wahyu, agama, dunia, manusia, ilmu, adab, dan kebahagiaan). Konsep-konsep tersebut permanen dan tidak berubah. Dengan ini, seorang pemimpin memiliki pondasi konsep diri yang kokoh. Karena sejatinya, kepemimpinan bukan hanya sekedar mengelola perubahan. Kepemimpinan bertujuan untuk mengelola kehidupan secara keseluruhan dengan perwujudan sesuatu yang permanen dan tidak mengalami perubahan, yaitu ibadah dan rahmatan lil ‘alamin.

2. Seorang pemimpin harus dekat dengan ilmu

Seorang pemimpin dikatakan amanah jika menjaga apa yang dititipkan dan bisa berlaku adil terhadapnya. Keadilan pada dasarnya bermula dan berakhir pada diri sendiri. Untuk bisa berpikir/berlaku adil (‘adl), seorang pemimpin harus bisa memiliki kebijaksanaan (hikmah). Seorang pemimpin dikatakan bijaksana jika ia tahu tempat terbaik untuk segala sesuatu (adab). Untuk bisa mengetahui tempat tentang sesuatu ia harus memiliki pengetahuan/ilmu (‘ilm) tentang sesuatu tersebut.

Kapasitas seorang manusia itu besar, namun terbatas. Inilah pentingnya seorang pemimpin untuk dekat dengan para ahli ilmu. Penulis menjelaskan hal ini dan kaitannya dengan problematika terbesar umat Islam sekarang:

  1. confusion of knowledge, kekeliruan terhadap ilmu, menghasilkan
  2. loss of adab, hilangnya adab, menghasilkan
  3. rise of unqualified leaders, berkuasanya pemimpin-pemimpin yang tak kompeten yang akan mempertahankan poin 1.

Antitesisnya, tentu dimulai dari memperbaiki pandangan terhadap ilmu sebagai salah satu konsep kunci dalam Islam. Kita tahu seberapa besarnya penekanan ilmu sejak Islam ini diturunkan ke bumi (iqra!). Maka, alternatif solusi terhadap permasalahan ini tidak dimulai dari mencari pemimpin yang kompeten, tetapi dari membangun budaya ilmu.

Budaya ilmu → adab yang baik → pemimpin yang baik yang akan mempertahankan budaya ilmu.

Manakala budaya ilmu itu belum terwujud dalam suatu masyarakat, maka penting bagi seorang pemimpin untuk bisa menciptakan budaya tersebut dengan cara mendekatkan diri kepada para ahli ilmu (agama maupun non agama), sehingga keputusan-keputusan yang dia buat berbasis ilmu.

3. Seorang pemimpin harus menularkan kebijaksanaan

Poin ini tidak secara eksplisit dijelaskan dalam buku. Namun dari banyak penjelasan mengenai kompetensi kognitif, emotif, dan eksekutif seorang pemimpin, aku mendapatkan satu hal: kebijaksanaan pemimpin harus tercerminkan dalam segala interaksinya dengan orang yang ia pimpin, mulai dari menunjukkan kegigihan dalam mengejar hasil, berorientasi pada proses, membangun hubungan, hingga mengatur talent dari orang-orang yang dipimpin.

Tentu saja, kepemimpinan akan dipergilirkan. Kebijaksanaan harus dapat ditularkan. Suatu pepatah mengatakan bahwa pemimpin yang berhasil di akhir adalah yang mampu menghasilkan pemimpin baru yang lebih baik dari pada dirinya sendiri. Karena kembali lagi, tujuannya tidak berubah, selalu sama: ibadah dan rahmatan lil ‘alamin.

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.