Home Blog
Post
Cancel

Nyaman Menjadi Berbeda: Muslim dan Southeast Asian di UK

Selasa, 13 September 2021, keluar dari McEwan Hall seberes International Check-In adalah pertama kalinya dalam hidup aku merasa sangat asing. Segala hal di luar diri ini begitu berbeda: bahasa, warna dan kontur wajah, kecepatan melangkah, hampir segalanya. Di antara 35an rekan satu program, MSc Speech and Language Processing 22/23, tidak ada yang sama secara signifikan. Termasuk hanya aku sendiri yang selalu lupa menyebutkan hobi ketika sesi berkenalan (bingung juga hobinya apa). Tidak tahu apa yang bisa kubagikan selain perbedaan.

Menariknya, tekanan itu hanya ada di beberapa hari awal aku menjadi mahasiswa the University of Edinburgh. Perlahan, datang kesadaran bahwa kawan-kawanku justru sudah terbiasa melihat perbedaan; tiap dari kita memang berbeda! Di sini aku saja yang belum luwes bersikap.

MSc Speech and Language Processing MSc Speech and Language Processing 22/23 di awal tahun ajaran.

Lalu, hari ke hari, kepercaya diri semakin bisa aku pupuk. Dari mulai berani membuka percakapan, menawarkan atau meminta bantuan, sampai mengajak salah seorang teman British minum teh di kafe. Alhamdulillah, bibit-bibitnya ada dari hal-hal kecil yang konkrit yang kenikmatannya bisa langsung dirasakan.

  • Kulit sawo matang–yang memudahkanku disapa sesama orang Asia Tenggara. Pertanyaan “Are you a Malaysian/Indonesian?” sering sekali terlontarkan.

  • Kerudung–yang membuatku/muslim lainnya tidak ragu untuk mengucapkan salam di tengah jalan.

  • Rok panjang–yang menambah satu lapis kehangatan di tengah Edinburgh yang berangin kencang nan dingin.

  • Pakaian batik–yang biasa mengundang pertanyaan dan komentar. Aku mencoba memakai satu potong blouse atau rok di setiap minggunya! :)

  • Arah langkah kaki ketika keluar dari gedung kuliah di jam-jam tertentu–ke Edinburgh Central Mosque untuk mengejar sholat Dzuhr atau Ashr.

  • Dan senyuman! 🙂 Senjata ampuh di tengah

    • kecanggungan setelah aku menolak berjabat tangan dengan laki-laki,
    • kecanggungan ketika saling bertatap penasaran dengan orang baru yang itu terjadi sepersekian detik, atau
    • sebagai wujud apresiasi pada pengendara mobil yang sigap berhenti ketika lampu pejalan kaki tiba-tiba hijau!

    Ketika ingin membuat diri ini lebih approachable, senyum adalah langkah pertama.

Setelah itu, aspek kehidupan yang lebih “abstrak” justru jadi kenyamanan internal yang lebih berkelanjutan. Aku tidak akan merasa rendah diri di hadapan makhluk apapun dengan identitas dan pengalaman ini.

  • Latar belakang akademikku, matematika. Tak ada di program MSc SLP yang jurusan S1-nya matematika. Namun, justru hal tersebutlah yang membuatku bisa bernafas sedikit lebih lega di semester ini karena sudah familiar dengan beberapa mata kuliah yang cenderung matematika-ish. Tidak ada kesulitas bagiku setidaknya dalam membaca notasi matematika ketika mengerjakan tugas reading yang bahasan teknisnya cukup mendalam.

  • Iman dan Islamku, alhamdulillah. Insya Allah, dengan dua hal dalam satu paket ini, aku tidak akan mudah kehilangan arah dan motivasi ketika menjalani perkuliahan dan kehidupan. Penjagaan oleh Allah Swt untuk dua hal tersebut adalah doa yang harus selalu aku minta di setiap detiknya, termasuk meminta untuk dikuatkan dalam menegakkan syariat setidaknya untuk diri sendiri (aurat, makanan halal, dst). Aku tidak ingin hal yang mengantarkan makhluk penuh bimbang ini 11 ribu kilometer jauh dari rumah justru semakin melemah ketika pulang nanti.

Itulah bagian-bagian dari identitas, karakter, maupun pengalaman yang membuatku lebih percaya diri dan nyaman jadi orang yang berbeda dari mayoritas masyarakat Britania Raya. Tentu saja, wilayah mainku masih di Kota Edinburgh. Ketika menjelajah tempat lain, aku perlu bersiap menghadapi ketidaknyamanan lainnya.

Kalau dulu aku berpikir aku tidak bisa melangkah maju karena insecure perbedaan dan memilih zona nyaman, mungkin aku hanya akan overthinking, mundur, dan Ilma tidak akan pernah menjejakkan kaki di sini.

image alt Di depan Scott Monument.

Edinburgh, 2 Oktober 2022 22:33 BST.

NB. Selamat Hari Batik Nasional!

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.