Home Blog
Post
Cancel

Kemajuan Peradaban: Penggaris Apa Yang Dipakai?

Tujuan bersama Asrama Mengembara 2.0 ini adalah pergi ke destinasi kita, yaitu Seoul, Korea Selatan. Selain itu, carilah alasan pribadi kalian masing-masing.

Kurang lebih itulah kata-kata yang terus diulang-ulang selama sembilan bulan keberjalanan program Asrama Mengembara 2.0 Goes to Seoul. Aku pun dengan patuh menuruti. Pada akhirnya, salah satu yang aku cari adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang cukup klasik mengenai tempat tujuan kami, Seoul, Korea Selatan–Korsel. Mungkin teman-temanku juga menaruh rasa penasaran yang sama.

Bagaiman Korsel dapat berkembang begitu pesat? Mengapa negara ini dikatakan sebagai salah satu negara yang paling maju di dunia? Indonesia dan Korsel merdeka di waktu yang berdekatan, tapi mengapa Korsel terlihat jauh lebih maju?

Tunggu, maju dalam hal apa?

Aku ingin melihat jawaban itu dengan mata kepalaku sendiri. Ini sangat menarik, karena perlahan potongan-potongan puzzle ini tersusun saling melengkapi seiring kami merasakan perubahan udara dari 26 ke -3 derajat celcius.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Incheon International Airport, benang kusut itu perlahan terurai. Diawali dengan kecanggihan kartu Tmoney yang terintegrasi ke segala transportasi publik di Seoul, ketakjubanku pada teknologi publik Korsel terus membuncah. Sepanjang jalan kutapaki, tidak ada ditemukan informasi semacam tulisan di kertas putih A4, menggunakan font Comic Sans, dilaminating, lalu ditempel dengan lakban bening, atau hitam, atau coklat, yang merusak cat. Hal-hal detil–sign system, pencahayaan, warna dinding, material–terlihat begitu seragam, rapi, well-thought, well-designed.

Kunjungan rombongan kami ke Samsung D’light di Distrik Seoucho-gu mengonfimasi hal ini. Ada teknologi di dalam lemari pakaian. Ada teknologi di lantai yang kamu injak. Ada teknologi di dalam genggamanmu. Mereka membuat kehidupan sehari-hari semudah menjentikkan jari. Mereka menggapai hal-hal yang tak pernah terpikirkan. Dapat kukatakan bahwa teknologi adalah kemajuan Korea paling menonjol.

Oke. Apakah cukup sampai di situ? Di mana first principle-nya?

Tidak. Aku mendapatkan jawaban lebih memuaskan dari para diplomat.

Pak Apung, Staff Ahli KBRI Seoul Pak Apung, Staff Ahli KBRI Seoul

Dalam keseragaman

Korsel, dan etnis korea pada umumnya, mereka “seragam”. Seragam rupanya, seragam sejarahnya, pikirannya, kesukaannya. Keseragaman ini ternyata kekuatan mereka. Rakyatnya mudah diatur, mereka memiliki kesamaan energi, sehingga semakin mudah untuk membangun peradaban mereka sendiri. Inilah yang membedakan kita, bangsa Indonesia yang beragam ini, dengan para hanguk-in. Tapi bukan berarti kegado-gadoan adalah suatu kelemahan. Justru ke-bhinekka-an ini adalah hal yang menempa bangsa kita menjadi bangsa yang tangguh dan toleran. Kondisi dan keadaan dapat menjadi kelemahan atau kekuatan bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.

Itulah pandangan yang aku dapatkan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul di Distrik Yeongdeungpo-gu.

Tapi tidak sesederhana itu. Ada suatu hal tak wujud, tak teraba, tapi sangat terasa di hiruk pikuk kehidupan Seoul ini. Ya, meskipun hanya aku alami dalam empat hari. Firasat ini dikonfirmasi oleh Ibu Anna Kusumah, WNI penerima gelar Warga Kehormatan Kota Seoul, guru bahasa Indonesia yang kami temui di Masjid Indonesia Seoul, masih di Yeongdeungpo.

Bergotong royong

Tidak ada orang yang bertalenta. Yang ada adalah orang yang bekerja keras. –Anna Kusumah

Itu adalah kalimat, yang aku tebak, menggaung di seluruh penjuru negeri ginseng. Dari nasihat bapak ke anaknya. Dari doktrin guru ke muridnya. Dari teguran atasan ke bawahan. Dari canda sahabat ke sahabat yang lain.

Penghargaan pada nilai-nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan norma sosial. Penghargaan pada kerja keras dan kerja bagus tanpa menanti hasil instan. Penghargaan pada proses pendidikan. Itu adalah prinsip-prinsip yang terus mengatur ekosistem Korsel. Berakar pada filosofi neo-konfusianisme, awet sejak Dinasti Joseon hingga sekarang. Maka tak heran rakyat Korsel berjejer di jalan saat zaman krisis moneter Asia tahun 1997, menyerahkan emasnya di rumah kepada negara untuk membangkitkan ekonomi nasional. Mereka mengayuh kapal bersama-sama. Kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.

Terdengar familiar? Bukankah sudah kita temukan konsep yang mirip dengan apa yang paling dekat dengan kehidupan kita?

Usia lansia memiliki presentase tingkat bunuh diri tertinggi di Korea Selatan. 1

Lubang menganga

Kita semua tahu bahwa Islam sudah melingkupi semua prinsip-prinsip tersebut. Nilai kekeluargaan dijelaskan dalam konsep ukhuwah. Nilai penekanan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan umat dijawab oleh zakat dan wakaf. Nilai pendidikan karakter dijawab oleh konsep adab sebelum ilmu. Tidak cukup banyak ilmuku untuk menyebutkan semuanya.

Islam bahkan menawarkan lebih dari itu. Ia bisa menambal “lubang” di kehidupan Korea–dan dunia–modern. “Lubang” itu pertama kali dikenalkan oleh Kak Delna dan Kak Tiara, sesama mahasiswa yang kami jumpai di Ewha Womens Univerisity. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Pak Apung, Staff Ahli KBRI Seoul.

Banyak mahasiswa di sini yang stress belajar demi mengejar pekerjaan yang layak. Tak sedikit dari yang merasa gagal kemudian memilih mengakhiri hidupnya. Di sisi lain, mereka tidak punya konsep akhirat seperti kita (red: muslim). –Pak Apung

Ya. Lubang itu adalah ketiadaan akan iman, kepercayaan akan adanya Tuhan Maha Kuasa yang satu dan absolut, iman terhadap akhirat setelah dunia, keyakinan bahwa setelah kesusahan niscaya ada kemudahan. Islam menawarkan solusi dengan set ajaran terbaiknya, turunan langsung dari Yang Maha Pencipta empat belas abad yang lalu.

Kembali lagi, ternyata definisi kemajuan ini sangat relatif. Mereka yang hanya melihat dari sisi teknologi, dengan parameter-parameter tertentu, akan berkata Korsel sebagai negara paling maju. Dari sisi praktik demokrasi, akan ada yang menyebutkan Norwegia sebagai yang terbaik. Mungkin dari perspektif sistem pendidikan akan menyebutkan negara lain lagi. Lalu penggaris apa yang semestinya yang kita gunakan untuk mengukur “kemajuan” kehidupan secara keseluruhan?

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” –QS. Al Hujurat: 13

Ketaqwaan sebagai ukuran utama. Pengukur sejatinya hanyalah Dia.

Pahatan kalimat syahadat yang menyambut pengunjung Seoul Central Mosque, Gyeongbokgung.

Lalu, apa itu taqwa? Mungkin kita bahas di lain waktu.

Tapi mengapa kita masih begitu-begitu saja?

Memang jika dibandingkan secara sistem kenegaraan dan ekonomi, benchmark Korsel dalam hal keislamian lebih baik2 dari pada negara kita tercinta. Tapi setidaknya kita bisa merasakan rasa aman akan adanya iman. Bukan berarti kita tidak punya catatan. PR kita masih banyak. Kemandekan kita sudah terlalu lama–delapan abad lamanya sejak Dinasti Abbasiyah tumbang. Semoga empat hari di Seoul ini dapat menjadi pengingat kita bahwa kebangkitan peradaban Islam itu tidak jauh lagi khayalan belaka. Ia ada di tangan kita.


Tapi hei, dari ayat al-Qur’an yang dikutip di atas, coba baca ayat selanjutnya. Apakah kita yakin bahwa kita sudah beriman? Jika ya, mengapa kita masih begitu-begitu saja?

Aku harus belajar lagi untuk melanjutkan topik ini.

  1. Kwon, Jin-Won, Heeran Chun, and Sung-Il Cho. “A Closer Look at the Increase in Suicide Rates in South Korea from 1986–2005.” BMC Public Health, 2009, 72. ↩︎

  2. Islamicity Index 2018 ↩︎

This post is licensed under CC BY 4.0 by the author.